Tampilkan postingan dengan label 'Ulumul Qur'an dan Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 'Ulumul Qur'an dan Hadits. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Februari 2012

Makalah Pembahasan Al-Qur'an dan Wahyu & Al-Qur'an dan Perkembangannya (Mata Kuliah 'Ulumul Qur'an dan Hadits)


Al-Qur’an dan Wahyu
&
‘Ulum Al-Qur’an dan Perkembangannya

Makalah ini diserahkan sebagai tugas pada mata kuliah ‘Ulumul Qur’an dan Hadits

Dosen Pembimbing :
Dr. Zubair, M.Ag.,

Disusun oleh:
Rifkia Syahida
Alia Rusli Hasbi
Lutfia Inda Rizki
Ikhwan Hakim Rangkuti


 FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2011

Pendahuluan

Al-Qur’an adalah kalammullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad lewat perantara malaikat Jibril sebagai mu’jizat. Al-Qur’an adalah sumber ilmu bagi kaum muslimin yang merupakan dasar-dasar hukum yang mencakup segala hal, baik aqidah, ibadah, etika, mu’amalah dan sebagainya.



“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(Q.S.An-Nahl 89).
Mempelajari isi Al-qur’an akan menambah perbendaharaan baru, memperluas pandangan dan pengetahuan, meningkatkan perspektif baru dan selalu menemui hal-hal yang selalu baru. Lebih jauh lagi, kita akan lebih yakin akan keunikan isinya yang menunjukan Maha Besarnya Allah sebagai penciptanya.Firman Allah :



Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami[546]; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Q.S.Al-A’raf 52)
            Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Karena itu, ada anggapan bahwa setiap orang yang mengerti bahasa Arab dapat mengerti isi Al-qur’an. Lebih dari itu, ada orang yang merasa telah dapat memahami dan menafsirkan Al-qur’an dengan bantuan terjemahnya sekalipun tidak mengerti bahasa Arab. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak mengerti kandungan Al-Qur’an. Bahkan di antara para sahabat dan tabi’in ada yang salah memahami Al-Qur’an karena tidak memiliki kemampuan untuk memahaminya. Oleh karena itu, untuk dapat mengetahui isi kandungan Al-Qur’an diperlukanlah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana, tata cara menafsiri Al-Qur’an. Yaitu Ulumul Qur’an atau Ulum at tafsir. Pembahasan mengenai ulumul Qur’an ini insya Allah akan dibahas secara rinci pada bab-bab selanjutnya.









Daftar Isi

Pendahuluan……………………………………………………………………....2
Al-Qur’an dan Wahyu:
A.   Pengertian Al-Qur’an…………………………………………………….4-5
B.   Nama-nama Al-Qur’an…………………………………………………...5-6
C.   Garis Besar Kandungan Al-Qur’an………………………………………6-7
D.   Pengertian Wahyu………………………………………………………..7-9
E.    Macam-macam Wahyu…………………………………………………9-13
F.    Perbedaan Wahyu, Ilham , dan Ta’lim………………………………..13-14
‘Ulumul Qur’an dan Perkembangannya:
A.   Pengertian ‘Ulumul Qur’an……………………………………………….15
B.   Ruang Lingkup ‘Ulumul Qur’an………………………………………….16
C.   Pokok-pokok Bahasan ‘Ulumul Qur’an………………………………...16-17
D.   Sejarah Perkembangan ‘Ulumul Qur’an………………………………..17-21
Daftar Pustaka……………………………………………………………………22
















Al-Qur’an dan Wahyu

A.               Pengertian Al-Qur’an
1.      Pengertian Etimologi (Bahasa).
Para Ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan kata Al-Qur’an:
a.       Sebagian dari mereka berkata bahwa Al-Qur’an merupakan kata jadian dari kata dasar            (membaca). Kata ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. mereka merujuk firman Allah:
                                             


Artinya : “Sesungguhnya atas tanggungan Kami-lah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (QS. Al-Qiyamah : 17-18)
b.      Sebagian dari mereka menjelaskan bahwa kata Al-Qur’an merupakan kata sifat dari kata dasar                     yang artinya menghimpun. Kemudian dijadikan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang menghimpun surat, ayat, kisah, perintah, dan larangan. Atau menghimpun intisari kitab-kitab suci sebelumnya.
c.       Sebagian dari mereka mengatakan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata kerja            (menyertakan), karena menyertakan surat, ayat, dan huruf-huruf.
d.      Al-Farra’ menjelaskan bahwa kata Al-Qur’an diambil dari kata                     (penguat) karena terdiri atas ayat-ayat yang saling menguatkan dan ada kemiripan satu sama lainnya.

2.      Pengertian Terminologi (Istilah).
a.       Menurut Manna’ Al-Qaththan:



Artinya: “Kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan orang yang membacanya akan memperoleh pahala.”
b.      Menurut Al-Jurjani:



Artinya: “Yang diturunkan kepada Rasulullah SAW, ditulis dalam mushaf, dan diriwayatkan secara mutawatir tanpa keraguan.”

c.       Menurut Abu Syahbah:





Artinya: “Kitab Allah yang diturunkan baik kafadz maupun maknanya kepada Nabi terakhir, Muhammad SAW. diriwayatkan secara mutawatir, yakni dengan kepastian dan keyakinan serta ditulis pada mushaf, mulai dari awal surat Al-Fatihah <1> sampai akhir surat An-Nas <114>.”
d.      Menurut kalangan pakar Ushul Fiqh, Fiqh, dan Bahasa Arab:





Artinya: “Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya, Muhammad. Lafadz-lafadznya, mengandung mukjizat, membacanya mempunyai nilai ibadah, diturunkan secara mutawatir, dan ditulis pada mushaf. Mulai dari awal surat Al-Fatihah <1> sampai akhir surat An-Nas <114>.”

B.               Nama-nama Al-Qur’an

Di dalam kitab Al-Ithahan karangan As-Suyuty, diterangkan bahwa Abul Ma’ali Syaizalah  Al-Burhan fi Musykilatil Qur’an (wafat tahun 494 H) menyebutkan 55 buah nama untuk Al-Qur’an. Bahkan Abul Hasan Al-Haraly (wafat tahun 647) menerangkan bahwa lebih dari 90 nama untuk Al-Qur’an.
Dr. Subhi Al-Salih berpendapat bahwa sebagian ulama berlebih-lebihan di dalam menghitung jumlah nama-nama untuk Al-Qur’an, sebab mereka mencampur-adukkan antara nama dan sifatnya.

Di antara nama-nama kitab suci umat Islam yang sangat terkenal:
a.       Al-Qur’an, di antaranya terdapat di surat Al-Baqarah : 185,





Artinya: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang baik dan batil).”





b.      Al-Furqan, di antaranya terdapat di surat Al-Furqan :1,



Artinya: “Maha Suci (Allah) yang telah menurunkan Al-Furqan kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.
c.       Al-Kitab, di antara lain dapat ditemukan di surat An-Nahl : 89,




Artinya: “Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).
d.      Adz-Dzikr, dapat kita jumpai dalam surat Al-Hijr,



Artinya: “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami (pula lah) yang memeliharanya.”

C.               Garis Besar Kandungan Al-Qur’an

Di dalam surat-surat dan ayat-ayat Al-Qur’an terkandung kandungan yang secara garis besar dapat kita bagi menjadi beberapa hal pokok atau hal utama beserta pengertian atau arti definisi dari masing-masing kandungan inti sarinya, yaitu sebagaimana berikut ini :
1.      Aqidah / Akidah
Aqidah adalah ilmu yang mengajarkan manusia mengenai kepercayaan yang pasti wajib dimiliki oleh setiap orang di dunia. Al-Qur’an mengajarkan akidah tauhid kepada kita yaitu menanamkan keyakinan terhadap Allah SWT yang satu yang tidak pernah tidur dan tidak beranak-pinak. Percaya kepada Allah SWT adalah salah satu butir rukun iman yang pertama. Orang yang tidak percaya terhadap rukun iman disebut sebagai orang-orang kafir.

2.      Ibadah
Ibadah adalah taat, tunduk, ikut, atau nurut dari segi bahasa. Dari pengertian “Fuqaha”, ibadah adalah segala bentuk ketaatan yang dijalankan atau dikerjakan untuk mendapat Ridha dari Allah SWT. Bentuk ibadah dasar dala ajaran agama Islam yakni seperti yang tercantum dalam lima butir rukun Islam. Mengucapkan dua kalimat syahadat, shalat lima waktu, membayar zakat, puasa di bulan suci Ramadhan dan beribadah [ergi haji bagi yang telah mampu menjalankannya.

3.      Akhlaq / Akhlak
Akhlak adalah perilaku yang dimiliki oleh manusia, baik akhlak yang terpuji atau akhlakul karimah maupun yang tercela atau akhlakul madzmumah. Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memperbaiki akhlaq. Setiap manusia harus mengikuti apa yang diperintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

4.      Hukum-hukum
Hukum yang ada di Al-Qur’an adalah memberi suruhan atau perintah kepada orang yang beriman untuk mengadili dan memberikan penjatuhan hukuman hokum pada sesame jenis yang terbukti bersalah. Hokum dalam Islam berdasarkan Al-Qur’an ada beberapa jenis atau macam seperti junayat, mu’amalat, munakahat, faraidh, dan jihad.

5.      Peringatan / Tadzkir
Tadzkir atau peringatan adalah sesuatu yang member peringatan kepada manusia akan  Allah SWT berupa siksa neraka atau waa’id. Tadzkir juga bisa berupa kabar gembira bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya dengan balasan berupa nikmat surge jannah atau waa’ad. Di samping itu ada pula gambaran yang menyenangkan di dalam Al-Qur;an atau disebut juga targhib dan kebalikannya ngambaran yang menakutkan dengan istilah lainnya tarhib.

6.      Sejarah-sejarah atau Kisah-kisah
Sejarah atau kisah adalah cerita mengenai orang-orang yang terdahulu baik yang mendapatkan kejayaan akibat taat kepada Allah SWT serta ada juga yang mengalami kebinasaan akibat tidak taat atau ingkar terhadap Allah SWT. Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebaiknya kita mengambil pelajaran yang baik-baik dari sejarah masa lalu atau dengan istilah lain ikhtibar.



7.      Dorongan untuk Berpikir
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang mengulas suatu bahasan yang memerlukan pemikiran manusia untuk mendapatkan manfaat dan juga membuktikan kebenarannya, terutama mengenai alam semesta.

D.                Pengertian Wahyu

Dikatakan wahaitu ilaih dan auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat. Itu terjadi melalui pembicaraan yang berupa rumus dan lambing, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.
Al-wahy atau wahyu adalah kata masdar (infinitive); dan materi kata itu menunjukkan dua  dasar, yaitu: tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu, maka dikatakan bahwa wahyu ialah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat yang khusus ditujukan kepada orang yang diberi tahu tanpa diketahui orang lain. Inilah pengertian masdarnya. Tetapi terkadang juga bahwa yang dimaksudkan adalah al-muha yaitu pengertian isim maf’ul, yang diwahyukan. Pengertian wahyu dalam arti bahasa meliputi:
1.      Ilham sebagai bawaan dasar manusia, seperti wahyu terhadap ibu Nabi Musa:



                       “Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa: “Susuilah dia…” (al-Qasas [28]:7)